13 June 2017

Membuat Pestisida Alami Dari Tembakau

Hama tentunya sangat mengganggu bagi para petani atau bagi mereka yang sekedar hobi bercocok tanam. Keberadaannya sangat tidak diharapkan mengingat hama akan merusak tanaman, baik tanaman hias, buah, sayuran, sampai kebutuhan pokok. Memang, banyak produk pembasmi hama dijual di pasaran, namun dengan memakainya seringkali memunculkan kekhawatiran tersendiri mengingat racun yang terkandung di dalamnya.
Tembakau di Sumedang
Pohon tembakau di Sumedang
Hama tentunya sangat mengganggu bagi para petani atau bagi mereka yang sekedar hobi bercocok tanam. Keberadaannya sangat tidak diharapkan mengingat hama akan merusak tanaman, baik tanaman hias, buah, sayuran, sampai kebutuhan pokok. Memang, banyak produk pembasmi hama dijual di pasaran, namun dengan memakainya seringkali memunculkan kekhawatiran tersendiri mengingat racun yang terkandung di dalamnya.

Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, ada cara alami yang bisa dilakukan untuk membuat pestisida ramah lingkungan. Tidak banyak yang tahu, bahwa tembakau bisa dijadikan pestisida alami yang berguna untuk membasmi hama tanaman! Ya, ternyata tembakau juga mampu mencegah serangan hama pada tanaman. Itu karena tembakau mempunyai kandungan bahan aktif alkoloid yang mampu mempengaruhi sambungan otot dan syaraf.

Baiklah, kita langsung saja ya. Berikut cara untuk membuat pestisida alami dari tembakau, pertama-tama sediakan ;
  • 250 mg tembakau
  • 2 sendok makan detergen
  • 2 sendok kapur
  • 4 liter air
Setelah semua bahan siap, tahap selanjutnya masuk pada tahap pengolahan ;
  • Campurkan tembakau, detergen, dan kapur, aduk
  • Rebus campuran tersebut dalam air 4 liter sampai mendidih, lalu disaring
  • Cairan hasil menyaring tersebut kemudian dijadikan biang. Setiap satu liter cairan dicampur dengan 10 - 15 liter air

Pestisida alami dari tembakau pun sudah jadi dan siap digunakan. Hama yang bisa diusir oleh pestisida alami ini antara lain adalah Aphids sp, Trips sp, walang sangit, penggerek polong, dan penggerek batang. Sekian, semoga bermanfaat.

12 June 2017

Membersihkan Kamar Mandi Secara Alami Dengan Belimbing Wuluh

Belimbing Wuluh
Belimbing Wuluh
Sobat, kalau kamar mandi kita kotor berkerak, menyebalkan, bukan? Jadi kurang nyaman melihatnya. Harus rutin kita membersihkannya. Di pasaran, banyak tersedia pembersih kimia yang ampuh membersihkan kamar mandi, yang jaminannya sampai kinclong, katanya. Tapi jika mau, kita bisa mencoba cara yang alami untuk membersihkan kamar mandi ini. Caranya, menggunakan belimbing wuluh! Ya, nyatanya buah yang biasa tumbuh di pekarangan dengan rasa super asam ini bisa dipakai untuk membersihkan kamar mandi, dan cukup manjur.

Jika sobat ingin coba membersihkan kamar mandi dengan cara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan, bisa dicoba tips berikut, yaitu membersihkan kamar mandi secara alami menggunakan belimbing wuluh. Bukan apa-apa, pembersih kamar mandi berbahan kimia sintetis biasanya bereaksi keras dan bisa mencemari lingkungan. Jika itu dilakukan terus menerus, tidak baik juga kan bagi lingkungan?

Untuk alternatif alami, dengan sifat kesat dan asamnya belimbing wuluh bisa digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap di kamar mandi, sekaligus juga membuatnya tampak bersih. Berikut cara memakai belimbing wuluh sebagai pembersih alami kamar mandi ;
  • Hancurkan beberapa buah belimbing wuluh setengah matang,
  • Taburkan serpihan belimbing wuluh sambil digosok-gosokkan di sekeliling lantai kamar mandi,
  • Biarkan semalaman, lalu gosok sedikit dan siram dengan air untuk membersihkan di keesokan harinya,
Dengan cara tersebut, belimbing wuluh akan bereaksi membersihkan lantai kamar mandi ketika dibiarkan semalaman. Keesokan harinya, setelah dibersihkan, ia akan membuat kamar mandi menjadi lebih bersih dan segar.

Karenanya, jangan ragu menanam belimbing wuluh/belimbing sayur ini di pekarangan rumah ya, buahnya yang seringkali lebat selain untuk bumbu masak juga bisa kita gunakan untuk membersihkan kamar mandi secara berkala. Cara alami ini pasti lebih aman dan lebih hemat, bukan?

9 June 2017

Trik Memandikan Ayam Serama

Ayam Serama
Ayam Serama
Ayam serama, walaupun bertubuh mungil, ayam ini terlihat gagah dengan dada yang membusung. Ayam yang berasal dari negara malaysia ini ukurannya tak begitu jauh dengan burung merpati. Bobot jantan dewasa 350 g dan betina, 300 g dengan tinggi sekitar 15 cm. Sekarang, ayam jenis ini menjadi klangenan atau hewan peliharaan yang banyak disukai oleh berbagai golongan.

Penampilan ayam serama sungguh memikat, lihat saja ketika ia berdiri tegak, dadanya tampak membusung dan sayap tegak lurus, sementara kepalanya tegak, bahkan bisa melengkung ke belakang hingga menyentuh ekor yang mengembang lurus.

Pemeliharannya pun sederhana, pakannya terhitung sedikit, terdiri atas campuran konsentrat, jagung. dan dedak, dimana perbandingannya 2:3:5. Itu cukup diberikan sehari dua kali. Sementara treatment atau perlakuan khusus hanya berupa dimandikan dengan sabun mengandung disenfektan supaya bulunya tetap mengkilap dan terhindar dari kutu. Selain itu, disarankan  untuk menjemurnya setiap pagi, pukul 09.00 selama 1–2 jam.

Berkaitan dengan memandikan serama, ada sebuah trik untuk memandikan ayam serama supaya ayam tidak stres dan bulunya semakin bagus. Berikut adalah langkah-langkahnya;
  • Pertama, sabun yang dipilih haruslah berbahan lembut (tidak meninggalkan panas/kering setelah pemakaian),
  • Basahi sabun dengan air hangat, lalu ambil busanya bersama dengan sedikit air,
  • Usapkan busa secara perlahan searah dengan arah bulu ayam, usapkan ke sekujur tubuh ayam,
  • Ketika mengusap, jangan terlalu kuat mengosoknya agar lapisan minyak di bulu tidak hilang,
  • Setelah itu paruh, jengger, muka, dan kaki juga perlu dibersihkan,
  • Setelah itu keringkan ayam di sangkarnya selama kira-kira 15 menit

29 May 2017

Memandangi Indahnya Kota Majalengka Dari Paraland

“Pap, ayu turuun,” Teriak Khansa setelah turun dari mobil kakeknya.

Ya, itu karena saya tak kunjung menemaninya tapaki tanah, tangan mungilnya masih tercantel pada jemari ibunya, yang juga mengais Rendra si bungsu. Karena lambai tangannya itulah, saya yang baru beberapa hari bisa bebas dari tongkat kruk pasca kecelakaan, mau tak mau harus turun juga dari mobil.

Tap, kaki kiri saya menapak tanah di parkiran, diikuti kaki kanan yang masih berbalut perban, dan, seketika itu pula kata “Majalengka ini panas,” yang selalu bersemayam di pikiran hilang seketika. Ya, hawa di area paralayang yang sering juga disebut Paraland ini sangat sejuk! Berbeda jauh dengan hawa di sekitaran Majalengka kota.

Berada di puncak Gunung Panten, Desa Sidamukti, Kecamatan Munjul, Majalengka, area paralayang ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, dimana pemandangan kota Majalengka dari atas berhias hamparan sawah yang menghijau yang berselang dengan komplek-komplek perumahan terlihat jelas. Mungkin karena view yang berbeda itu lah, di sana-sini terlihat muda-mudi yang sedang asyik berfoto. Tempatnya memang instagramable!

Langsung lupa saya pada kaki yang masih terasa nyut-nyutan. Sayangnya, saat saya dan keluarga berkunjung, tidak ada seorang paragliders pun yang sedang menapaki angkasa, ditunggu sekian lama pun tidak ada yang meluncur terbang. Mungkin sedang tidak ada jadwal. Tapi tak apa, pemandangan yang tersaji di sini cukup menghibur hati meski tak melihat atraksi paralayang.
Melihat pemandangan dari puncak Gunung Panten, Paraland Majalengka
Gunung Panten sendiri merupakan sebutan untuk sebuah bukit di Kecamatan Munjul, letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota Majalengka, hanya sekitar tiga kilometer saja. Ya, letak Paraland atau area paralayang Majalengka ini letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota! Sehingga mudah bagi kita untuk menjangkaunya. Ini, mirip seperti area paralayang di Kampung Toga Sumedang, yang letaknya tak terlalu jauh dari pusat kota.

Untuk sampai ke lokasi, patokannya bisa dimulai dari SD munjul yang tak begitu jauh dari jalan kota/bunderan Munjul. Mengikuti alur, perlahan kita nantinya akan dibawa naik oleh alur jalan, naik menuju bukit Panten. Rutenya sekarang tidak terlalu sulit karena sudah ada mulusnya jalan yang disediakan, ini berbeda dengan sebelum ditemukannya potensi wisata di tempat ini.

Di perjalanan, jika sedang musimnya, kita bisa melihat mangga gedong gincu ranum berbuah di perkebunan mangga yang dilewati. Di sini juga orang ramai memperbincangkan tentang buah duwet/jamblang yang sudah sangat jarang dijumpai, katanya disini banyak pohon duwet dan kita bisa ikut menikmatinya. Sayang sampai pulang saya tak menjumpainya, mungkin sedang tak musim.

Dari web Majalengka Online, olahraga/wisata udara yang bisa dinikmati di sini ada dua macam yaitu Paralayang dan Gantole. Dimana untuk menikmati terbang tandem Paralayang, dipasang tarif Rp. 350.000 per pax, sedangkan untuk Gantole dikenakan biaya Rp. 450 ribu per pax.

Oh ya, ketika saya berkunjung, harga masuk atau tiket menuju area paralayang ini hanya Rp.3000 saja per orang plus parkir kendaraan. Tiketnya sendiri dibayar di bawah ketika memasuki portal. Dan, ketika akan masuk area paralayangnya kita diharuskan membayar lagi sebesar Rp.20.000 per orang.

Tapi entah sekarang entah berapa nominal yang harus dibayar untuk masuk, karena katanya harga tiket plus masuk area Paraland ini terus mengalami kenaikan.  Di sekitar area paralayang ini terdapat kafe yang menyajikan beragam kuliner. Pun tak jauh darinya, ada arena bermain anak dan berbagai faslitas yang sedang dibangun, yang sepertinya akan cukup “wah” jika sudah selesai nanti.

Mungkin sekian pengalaman saya berkunjung ke area paralayang/Paraland Majalengka, tentang harga tiket masuk, fasilitas, dan tarif olahraga Paralayang/Gantole di wisata paralayang Gunung Panten Majalengka. Semoga bermanfaat.

22 April 2017

Antara Zaman Hoax dan Syahwat Berkomentar

Syahwat, apa itu syahwat? Sejenis benda serupa temali yang terbuat dari logam dan dapat menghantar listrik? Bukan, Itu mah kawat!

Cobalah tanya secara random pada beberapa orang dari tiga tingkat usia, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa, coba tanyakan apa itu syahwat. Apa kira-kira jawabannya? Adalah lazim jika kita jumpai jawaban dari pertanyaan tersebut adalah; nafsu seks, birahi! Ya, setidaknya 7-8 dari 10 orang yang ditanya akan menjawab demikian.

Lha, kan itu tidak salah? Toh di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun disebut bahwa syahwat adalah; syahwat/syah·wat/ n adalah nafsu atau keinginan bersetubuh; keberahian. Secara online, pengertian syahwat dari KBBI tersebut bisa dicek di alamat ini http://kbbi.web.id/syahwat .

Maka tak heran, karenanya, banyak orang yang mengkonotasikan bahwa syahwat itu melulu adalah soal urusan seks. Sampai orang suka malu jika misal dibilang; besar syahwatnya.

Padahal mah ya, kalau kita mau renungi, syahwat itu tak melulu ngurusi soal yang begituan lho. Karena ia adalah salah satu subsistem (yang kompleks) dari sistem kejiwaan yang ada pada diri manusia, dimana ia bergandengan dengan akal dan hati nuraeni, eh, nurani.  Adalah nafsu seksual merupakan bagian dari syahwat, tentu itu benar adanya, tapi jika ada yang mengatakan bahwa  syahwat adalah hanya nafsu seksual, itu bisa kita koreksi.

Berdasar dari bahasa awalnya, syahwat berasal dari bahasa Arab yaitu syahiya-syaha yasyha – syahwatan, yang mudahnya berarti menyukai dan menyenangi. Singkatnya, dapat kita generalisasikan bahwa syahwat  adalah keinginan dan kecenderungan, yang tentunya bisa melingkupi apa saja. Misal; mereka yang gembul/suka makan, berarti syahwat makannya besar, kan? Dia menyenangi makan, cenderung untuk makan terus.

Senada dengan Sigmund Freud yang menyatakan bahwa syahwat adalah penggerak “driving force” dari segala dinamika kehidupan di dunia, kita pahami bahwa syahwat adalah fitrah manusia, karenanyalah kita bisa bertahan hidup. Tentu, yang kita perlukan adalah memanagenya, karena jika tidak, ia akan bersifat destruktif, menghancurkan.

Dan seperti yang digarisbawahi di atas, berhubung syahwat ini melingkupi apa saja yang bisa memantik keinginan dan kecenderungan, maka kali ini saya ingin menulis suatu syahwat yang mungkin, sangat jarang disinggung, syahwat share dan shyahwat berkomentar! Ya, syahwat share dan berkomentar, entahlah, saya asal saja memadu padankan katanya, karena itu dirasa cocok untuk zaman hoax seperti sekarang ini.

Berita Hoax
Jangan asal share berita, hoax mengintaimu. Image by jalantikus.com

Syahwat jenis ini, sebetulnya bukan hal baru dan selamanya akan terus ada sepanjang zaman. Sedari zaman Sangkuriang nyentil hidung Hercules, bergeser ke zaman Superman pakai CD nangkring merah marun, bahkan sampai nanti zaman Gundala Putra Petir gabung Akatsuki pun, syahwat berkomentar, membagikan berita, sampai syahwat menebar hoax pun akan akan tetap ada.

Hanya saja, kalau dulu syahwat jenis ini kurang terasa, sekarang justru kentara sekali kehadirannya, dimana kita lebih leluasa untuk mengekspresikannya, utamanya sejak boomingnya media sosial. Betul tidak? Betul we atuhlah biar kita bisa lanjut ngelanturnya.

Contoh, jika dulu kita hanya bisa mencak-mencak depan TV saat jadi komentator bola, jika dulu suporter bola hanya bisa berteriak “Wasit G**B***” sebatas di tribun penonton, jika dulu ibu-ibu hanya bisa ngerumpi bergosip/ghibah dalam lingkup tetanggan yang terbatas, sekarang, di zaman media sosial, semua kata-kata yang terlontar pada moment tersebut bisa menerabas ruang dan waktu! Benar begitu, bukan?

Sekarang mah, jangankan berkata, kita cuma merenungi sesuatu pun orang lain bisa tahu! Canggih pan? Sekelas jin saja belum tentu bisa. Misal, Teteh A yang tinggal di Sunderland berpikir sesuatu ketika melihat foto profil admin blog ini; “Duh, Aa admin blog Insomnia Notes ini ganteng sekali deh,”, dan seketika itu pula, mereka yang tinggal di Sudiplak, Sudimampir, dan sudi-sudi yang beratus ribu kilometer jauhnya dari Sunderland bisa mengetahui apa yang dipikirkan si Teteh A tersebut, dengan catatan, si Teteh menuliskan apa yang dipikirnya, dalam akun media sosialnya.

Karenanya, duh, ini teh harus dijaga sekali! Jangan sampai lalai kita.

Zaman media sosial, plus zaman hoax, mungkin, bisa dibilang adalah zaman dimana syahwat berkomentar atau syahwat cuap-cuap kita benar-benar sedang diuji. Ya, karena di sana, di media sosial, kita merasa aman untuk mengomentari berbagai hal, apa saja bisa kita komentari, apa saja bisa kita bagikan. Ada kabar ini, kita ingin ikut komentari, ada kabar itu, kita ingin ikut komentari, ada kecenderungan, ada kesenangan di situ.

Dan bagi kita “rakyat Indonesia”, saya beri kutip itu rakyat Indonesia, ujian paling berat tuk menahan syahwat berkomentar dan share berita di media sosial ini setidaknya sudah terjadi dua kali, tahu kan peristiwa apa saja itu? pasti tahulah, yang terbaru bahkan masih anget-anget tahi ayam.

Yang sejenis itu jadi moment-moment paling hot, paling menggoda bagi kita warga negara untuk ikut berkomentar, wajar, karena kita merasa ikut memiliki negeri ini.

Selama punya basic keilmuan yang sesuai, tak mengapa ikut mengemukakan pendapat dan berkomentar di media sosial, bahkan mungkin harus (hitung-hitung bagi-bagi ilmu), karena yang seperti ini lompatnya nanti biasanya adu argumennya jadi diskusi, adem. Sebutlah ini tipe orang yang pertama.

Tapi jika tidak punya basic keilmuan yang cukup, ah, lebih baik mundurlah, apalagi kalau cuap-cuap hanya bermodal teori dan data dari portal-portal online. Sebutlah ini orang tipe kedua, yang berani berkomentar dengan hanya mencomot segala sesuatunya dari medsos. Yang model kedua ini, biasanya yang suka merasa benar sendiri dimana komentar dan share berita selalu diisi dengan nafsu, tendensius, terlihat sekali syahwatnya. Tak sadar ia telah terjerumus dalam permainan tingkat tinggi.

Ini bukan negeri dimana hak bersuara benar-benar dibatasi, jadi kita boleh-boleh saja umbar syahwat mau komentar kesana-kemari, tapi ya sudah banyak juga bukti, banyak mereka yang ditangkapi karena tak bisa menjaga apa yang ada di balik gigi. Tentu tak akan jadi masalah, jika kita komentarnya netral-netral saja.

Apa sobat pernah berselisih dengan sanak saudara, teman, atau bahkan unfriend seorang teman di media sosial hanya karena sebuah perdebatan yang tak perlu? Jika pernah, berarti mungkin, sobat telah terjerumus dalam syahwat berkomentar, yang menghancurkan.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari syahwat jenis ini? Sebetulnya simpel saja;

    1. Niat, tahan diri

Tentu, niat adalah yang paling utama dalam segala hal. Mari niatkan, untuk tidak sembarangan mengomentari atau membagikan suatu berita di media sosial. Mari menahan diri.

    2. Cek dan ricek

Selanjutnya, jika kita memang sudah tak kuat lagi menahan diri dan ingin mengomentari atau membagikan berita tentang suatu hal, setidaknya cek dan riceklah dulu. Karena siapa tahu yang kita bagikan itu hoax! Kalau membagikan suatu berita bohong, kecipratan lho dosanya.

Ini perlu sekali, agar kita tidak terjerumus. Kita sudah mafhum, dewasa ini, sebuah kabar atau berita seringkali dibuat berdasarkan kepentingan suatu kelompok, hoax pun bisa masuk dalam lingkup ini. Tujuannya apa lagi kalau bukan penggiringan opini atau mengadu domba? Nah, di sini kita perlu cari tahu apakah kabar yang sudah kita baca benar adanya atau tidak. Janganlah percaya begitu saja pada satu dua sumber berita.

    3. Netralkan hati, netralkan posisi, netralkan komentar

Ini jadi salah satu yang paling sulit. Ya, netralkan hati itu sulit sekali karena fitrahnya hati adalah memiliki kecenderungan, memihak. Tapi setidaknya tekanlah itu sebisa mungkin. Orang yang hatinya tak netral, yang hatinya sudah diisi penuh kecenderungan/pembelaan akan sesuatu, ia tak akan bisa lagi menerima kabar lain yang bertentangan dengan keinginannya. Semua tak akan masuk lagi ke dalam telinga dan hatinya. Ibarat gelas yang sudah penuh terisi air, kalau diisi air lagi kan malah jadi mbeleber.

Yang seperti ini cenderung akan selalu mencari pembenaran akan pilihan/keberpihakannya. Mari netralkan hati, netralkan posisi, kosongkan gelas.

Jika menetralkan hati dan posisi tidak memungkinkan, setidaknya netralkan lah komentar, baik dalam kolom komentar media sosial maupun share berita. Jangan berkomentar memojokkan, menyindir, nyinyir, mengejek, yang memperlihatkan keberpihakan kita pada suatu hal, karena itu akan memecah belah.

Jika kita keukeuh ingin share/berkomentar karena beranggapan apa yang kita sampaikan adalah sebuah kebenaran, percayalah kebenaran punya rambu-rambunya sendiri. Kebenaran tak akan memojokkan, kebenaran tak akan menyikut hati temannya sendiri. Sampaikan semua dalam damai dan penuh kelembutan.

    4. Ukur diri

Ya, ukur diri, sebenarnya kita punya kompetensi tidak sih, untuk mengomentari hal itu (yang ingin dikomentari)? Bukan apa-apa, karena sekarang anak SD pun bisa “mengkuliahi” seorang profesor dalam komentarnya di media sosial. Dengan satu dua foto yang direka sedemikian rupa dan ditambah sedikit kata-kata, seperti sudah bisa mengalahkan karya ilmiah yang sudah disusun dengan susah payah.

***

Sebetulnya masih sangat banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari syahwat share dan berkomentar. Tapi berhubung keburu pegel nulis, jadi cukup sekian dulu ya. Pun dari cuap-cuap tak jelas di atas, silahkan ambil yang baiknya dan buang yang buruknya, semoga bermanfaat.

***

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(QS.Al Hujurat : 6)

29 March 2017

Cara Menyelamatkan Biji Adenium

Menyelamatkan Biji Adenium
Menyelamatkan Biji Adenium
"Wah, kemana ini biji-bijinya? Buahnya keburu pecah!" Seorang ibu mengomel di suatu pagi, karena dapati buah adenium yang sudah lama ditunggu matang tuk diambil bijinya, tiba-tiba didapati sudah hancur merekah dan menghilangkan biji-biji benih yang ditunggunya. Tentu akan sangat kesal ya jika kita mengalami kejadian serupa, karena walhasil, niat mengembangbiakkan adenium secara generatif lewat biji pupus begitu saja.

Ya, Adenium atau si mawar gurun, merupakan salah satu tanaman hias yang paling digemari di Indonesia. Warna-warni bunganya yang cerah, bonggolnya yang seringkali berbentuk unik dan indah, plus perawatannya yang relatif mudah, membuat hampir semua pecinta bunga atau tanaman hias jatuh hati pada tanaman ini. Karenanya tak heran, jika ia sekarang mudah dijumpai di banyak pekarangan rumah.

Yang tak hanya sekedar suka, mereka yang sudah benar-benar jatuh hati pada tanaman ini, bahkan sudah bukan berpikir hanya untuk memeliharanya saja, tapi juga mengembiakannya, membuatnya jadi banyak. Tak hanya jadi kesenangan pribadi, itu bisa juga jadi lahan yang prospek untuk berbisnis, bukan begitu? Ya, karena Adenium ini mempunyai harga yang lumayan di pasaran. Malah yang sudah berbentuk indah, harganya bisa selangit!

Dalam memperbanyak Adenium ini, sama dengan lainnya, bisa dilakukan dengan dua cara yaitu vegetatif dan generatif. Cara-cara tersebut masing-masing punya keunggulan dan kekurangan. Tapi sekarang saya tidak akan membahas perbandingan tersebut. Di sini, sesuai dengan judul artikel dan ilustrasi di atas, saya akan mencatat tentang bagaimana cara mengamankan atau menyelamatkan biji adenium agar tak hilang begitu saja gara-gara buahnya keburu pecah.

Setelah matang, buah adenium memang dikenal gampang merekah dan pecah. Itu mengakibatkan, biji-bijinya yang ringan bisa hilang begitu saja karena beterbangan. Jika itu terjadi, raib sudah biji yang didamba. Nah agar hal tersebut tidak terjadi, sebetulnya ada cara mudah yang bisa dilakukan. Ya, caranya adalah dengan mengikat buah Adenium tersebut seperti tampak pada gambar di atas! Jangan tunggu sampai buah terlalu tua, ketika sudah seukuran kelingking, sobat bisa mengikat buah itu dengan cara melilitnya.

Dengan demikian, biji tidak akan lari ketika tiba-tiba buah Adeniumnya pecah. Itu karena, buah akan tetap mengatup karena terhalang tali. Tali untuk melilitnya pun bisa menggunakan tali apa saja, tali rafia contohnya seperti yang saya gunakan di atas. Tapi ingat, jangan mengikat buahnya terlalu kuat ya! Agar tak terganggu proses perkembangannya. Bagaimana, mudah bukan, sobat?

1 February 2017

Rekreasi ke Kebun Binatang Bandung

Rekreasi ke Kebun Binatang Bandung
Rekreasi ke Kebun Binatang Bandung
Berbagai sumber menyebutkan, salah satu yang dapat membantu perkembangan emosional anak adalah dengan memperkenalkannya, atau membuatnya berinteraksi dengan binatang. Itu sebabnya, mengajak anak mengunjungi kebun binatang menjadi pilihan yang baik selain memelihara binatang di rumah. Ya, di kebun binatang tentu banyak pelajaran yang bisa diserap oleh anak, banyak binatang yang bisa kenalkan pada mereka, pun kosakata mereka yang bertambah juga makin baik karena terekam pula wujud/sosok binatang yang dihapal dalam bentuk visual, nyata di hadap mata.

Memang benar adanya, Itu pula yang saya dan keluarga saksikan ketika mengajak Khansa (2 tahun) beserta saudara-saudarinya berekreasi ke Kebun Binatang Bandung. Di Kebun Binatang yang beralamat di Jalan Kebun Binatang No.6, Lebak Siliwangi, Coblong, Bandung ini, mereka nampak begitu antusias melihat ragam flora dan koleksi fauna yang ada, walau kadang mereka tampak terengah menjelajah topografi bergelombang yang tersaji, sekalian olahraga, hhe.

Sayang, sepertinya sedikit sekali perubahan yang ada di kebun binatang ini. Ya, dari semenjak saya kecil dan beberapa kali berkunjung ke sini, sampai saya punya anak dan kembali berkunjung ke sini, rasanya kebun binatang yang berdampingan dengan dengan kampus Institut Teknologi Bandung dan Sungai Cikapundung ini masih tetap begini-begini saja. Seperti kurang terobosan di tengah menjamurnya tempat wisata di kawasan Bandung. Tapi hebatnya, pengunjung nyatanya tetap berduyun mengunjungi kebun binatang yang sudah dibuka semenjak tahun 1933 ini, mereka tak bosan menapaki lahan seluas 13,5-nya.

Harga tiket untuk memasuki kebun binatang ini hanya sebesar Rp. 20.000 saja bagi orang dewasa, Rp. 15.000 bagi anak di atas tiga tahun, dan gratis alias tidak dikenakan biaya bagi anak di bawah tiga tahun. Sangat terjangkau, bukan? Apalagi banyak kegembiraan dan pelajaran yang bisa diambil oleh anak-anak kita di kebun binatang. Untuk parkir kendaraan, kalau tak salah sebesar Rp. 5.000 untuk kendaraan roda empat.

Di kebun binatang kita bisa melihat beragam fauna, mulai dari jenis-jenis reptil, mamalia, burung, ikan, sampai binatang-binatang langka pun semua ada. Kita bisa mengedukasi anak-anak kita tentang semua hewan tersebut, tentu dengan sebelumnya memperkaya referensi dulu tentang apa yang akan kita jelaskan. Jangan sampai ketika anak bertanya tentang sesuatu, kita malah tidak tahu :)

Ketika Khansa dan ibunya terlebih dulu asyik melihat beragam burung, saya lebih memilih untuk langsung meihat kandang beruang madu. Ya, saya penasaran dengan berita yang sempat booming pada bulan Januari 2017 lalu, tentang beruang madu yang kelaparan! Kala itu heboh diberitakan beruang madu yang ada di Kebun Binatang Bandung ini kurus-kurus karena kelaparan, juga meminta-minta makanan pada pengunjung. Tapi ketika melihat langsung, beruang madunya tidak kurus dan terlihat cukup makan kok.
kandang beruang madu kebun binatang bandung
Beruang Madu-nya tak seperti yang diberitakan
Ketika lelah berkeliling dan ingin selonjoran sejenak di taman atau di bawah naungan pohon-pohon besar, di sini kita bisa menyewa tikar pada ibu-ibu yang menyewakan. Ya, memang di sini banyak sekali ibu-ibu yang stanbye untuk menyewakan tikar. Harga sewa tikarnya sendiri adalah Rp. 20.000 dengan durasi selama kita berada di kebun binatang. Karenanya saya dan keluarga menyewa tikar itu ketika datang, dan memakainya untuk menyimpan perbekalan. Puas berkeliling, baru lah kita kembali ke tempat dimana tikar digelar, lalu “murak timbel”, menikmati perbekalan makanan yang dibawa. Setelah istirahat, kita bisa lanjut lagi berkeliling.

Dikelola oleh Yayasan Marga Satwa Tamansari, kebun binatang yang dulunya bernama Bandung Zoological Park (BZP) ini juga menyedekian beberapa fasilitas atau wahana lain seperti;
  • Taman Bermain, taman bermain ini khusus d buat untuk anak anak. Di sana terdapat ayunan, istana balon, balon air dan lain sebagainya sebagai sarana hiburan bagi anak-anak agar lebih betah menghabiskan waktunya di kebun binatang.
  • Kolam Perahu, dengan ini kita dapat mengelilingi danau buatan yang sengaja di buat.
  • Flying Fox, swiing!! Dengan ini kita pasti bakal merasa jadi artis karena melayang tepat di atas ratusan pengunjung. Bukan mustahil ratusan pasang mata itu akan langsung tertuju pada kita yang meluncur dari ketinggian.
  • Panggung hiburan, dengan adanya panggung hiburan ini kita juga bisa menikmati musik ketika berkeliling. Tapi ketika kesini panggung hiburan ini sedang tak aktif.
Mungkin sekian tentang pengalaman saya berkunjung ke Kebun Binatang Bandung, tentang harga tiket masuk, fasilitas, dan wahana permainan yang tersedia di Kebun Binatang Bandung. Semoga bermanfaat.
Melihat salah satu hewan langka, tapir

29 January 2017

Menikmati Senja di Floating Market Lembang

Menikmati suasana di Floating Market, Lembang
Menikmati suasana di Floating Market, Lembang
Hari terasa begitu dingin ketika saya dan keluarga menginjakkan kaki di tempat wisata yang sedang jadi primadona ini, Floating Market Lembang. Beralamat di Jl. Grand Hotel No. 33 E Lembang, Floating Market memang Lembang banget! Ya, Lembang selama ini memang identik dengan hawa sejuknya, dingin, khas pegunungan.

Sore itu pertama kalinya kami mengunjungi tempat wisata yang terkenal karena pasar terapungnya ini. Sebetulnya, saat tiba di gerbang saya sudah tak begitu bersemangat, lelah sekali rasanya untuk sampai ke sini. Mengingat kami datang pada hari Sabtu, macet di jalanan sungguh luar biasa! Tapi selepas membayar tiket masuk sebesar Rp. 15.000 per orang dan parkir untuk mobil seharga Rp. 30.000, mobil menepi, rasa tak semangat itu perlahan pergi. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena udara sejuk yang menyapa saat pintu mobil dibuka.

Khansa, langsung jingkrak-jingkrak ia di tempat parkir yang luas, ibunya yang menggendong Rendra pun sama, seakan tak sabar ingin segera masuk. Dan sejenak setelah meninggalkan lapangan parkir, memasuki area yang jadi primadona wisata, dua bola mata mengantar saya memandangi suatu pemandangan yang wah, Subhanallah, indahnya! Dimana hawa sejuk pegunungan dipadupadankan dengan taman-taman bunga, hampar danau, dan semaraknya suasana. Rapi tertib semua walau pengunjung tak terhitung jumlahnya.

Setelah menukar tiket masuk dengan segelas hot Cappucino, saya memandangi jam di ponsel, jam digitalnya menunjuk tepat di jam tiga sore, jelas itu. Wah, sesal mulai datang. Dengan waktu mendesak ke Maghrib, rasanya mustahil bisa menikmati semua yang tersaji di hadap mata dalam waktu yang sesingkat itu. Kita datangnya kesorean! Belum berkeliling pun, niat datang lagi suatu saat nanti sudah tercetus. Ngomong-ngomong, unik ya, tiket masuk yang terjangkau itu masih pula bisa ditukar dengan minuman. Minuman yang bisa dipilih untuk ditukar antara lain lemon tea, hot cappuccino dan hot chocolate.

Pertama, kita berkeliling, tak langsung mendatangi suguhan utama berupa pasar terapung tradisional yang katanya mirip di Thailand atau beberapa lokasi khas di Indonesia itu, kita justru terpesona dengan pemandangan yang ada. Lagipula Khansa terus menggenggam tangan dengan langkah kakinya sebagai komando, pertanda saya harus mengikuti kemana maunya. Ia yang sudah berjaket tebal itu sepertinya ikut terbius, ingin ikut berduyun dengan pengunjung lain menjelajahi spot demi spot di lokasi. Ia juga tak merengek ingin mencoba berbagai permainan anak yang tersedia, hanya ingin ikut rame-ramean saja, berjalan kesana kemari dengan track yang mudah dilalui, dengan taman-taman yang mengapit di kanan kirinya. Ya, track yang tersedia begitu runut, itu mempermudah kita menjelajah setiap lokasi.

Sembari berkeliling, saya buat mata menjelajah saja, menikmati senja di area wisata floating market, melihat-lihat fasilitas yang tersedia berupa area berfoto, area bermain anak, mushala, dan lainnya. Hingga didapat kesimpulan bahwa fasilitas yang tersedia  di tempat wisata ini cukup baik dan lengkap seperti pertama; Mushalla yang nyaman dan bersih (dipisah pula untuk pria dan wanita). Jadi bagi sobat muslim yang ingin berkunjung dan berlama-lama di sini, jangan khawatir terlewat waktu shalat deh, sarana prasarana untuk beribadah tersedia dengan baik kok.

Hanyan untuk fasulitas yang kedua, toilet/WC, bagi saya ini jadi catatan, saya pibadi merasa toiletnya kurang! Tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang sangat banyak. Kita harus antribeberapa waktu untuk menggunakan fasilitas ini. Saya sendiri antri kurang lebih lima belas menit untuk sekedar buang air kecil, ditengah udara Lembang yang dingin, itu sungguh menyiksa! Hhe.
Menikmati suasana di Floating Market, Lembang
Menikmati suasana di Floating Market, Lembang
Lalu yang ketiga, ini yang paling banyak diburu, area berfoto! Hayo ngaku saja lah yang pernah main ke sini, datang ke Floating Market ini tujuan utamanya bukan untuk makan atau yang lainnya kan? Tapi hanya untuk berfoto kan? Hayo ngaku saja lah. Ya, tak heran memang, tempat wisata ini menyajikan pemandangan yang sangat indah di setiap sudutnya. Malah menurut saya pribadi hampir setiap sudut tempat di sini begitu instagramable, mulai dari pasar terapung, taman-taman, tepi danau, sampai area-area berfoto khusus seperti The Rock, dan lainnya. Empat jempol lah untuk fasilitas yang ketiga ini.

Lalu yang keempat, tempat kuliner atau makan, wah ini mah jangan ditanya ya, berbagai macam menu Indonesia, Asia, sampai Eropa ada di sini! Ditemani nyaman suasana yang ada, pastinya lidah dan hati kita sangat dimanjakan, membuat terlena jiwa! Tapi mesti diingat, sesuaikan semua itu dengan budget. Ya, karena variasi menu yang ada tentu bervariasi pula harganya, makin banyak yang ingin dinikmati tentu makin bengkak pula anggaran yang mesti disediakan.

Kelima, area bermain anak dan wahana lainnya. Di floating market ini banyak sekali tersedia area bermain anak seperti kereta api mini, taman kelinci, dan lain-lain. Ini tentunya membuat anak-anak kita betah berlama-lama di sini. Untuk yang ini mah perhitungannya sama dengan yang point ke empat ya, karena untuk setiap arena bermain memasang tarif yang berbeda dan kita harus merogoh kocek lagi.

Dan seperti pengunjung kebanyakan yang niatnya hanya ingin refreshing menikmati suasana yang tersaji, itu pula yang saya dan keluarga lakukan. Dengan ditemani jeprat-jepret di hampir setiap lokasi yang disinggahi, kami berkeliling terhanyut sajian pemandangan yang ada. Sedang makan, atau mencoba wahana ini itu jadi nomer ke sekian, yang penting berkeliling dulu, jalan-jalan! Nikmati sore di segar udara dan dingin yang menusuk tulang.

Dan, benar saja, asyik kami berkeliling tanpa sempat menikmati satu pun wahana yang ada, Maghrib sudah hampir tiba. Meski hari Sabtu Floating Market ini ditutup pukul 20.00, kami harus cepat berkemas karena perjalanan pulang ke Sumedang tak makan waktu sebentar. Apalagi, macet pasti masih mengintai kami. Tak apalah, terpenting, keluarga utamanya Khansa terlihat begitu menikmati, memang rekreasi juga ternyata punya peran penting bagi tumbuh kembang anak ya.

Meski kami tak sempat mencoba banyak wahana/permainan yang ada, dikutip dari wisatalembangbandung.com, berikut adalah tabel lengkap mengenai harga tiket masuk, biaya parkir, dan tiket wahana di Floating Market Lembang. Siapa tahu ada yang membutuhkan rujukan.

1. Harga tiket masuk plus parkir

NO
Hari dan Parkir
Harga Tiket
Keterangan
1
Senin-Jumat
Rp. 15.000
Jam buka : 09.00-17.00 WIB
2
Sabtu-Minggu
Rp. 15.000
Jam Buka : 09.00-20.00 WIB
3
Parkir Mobil
Rp. 30.000
4
Parkir Motor
Rp. 5000

2. Harga tiket permainan/wahana

NO
Nama Permainan/Wahana
Harga Tiket
Keterangan
1
Outbond Untuk Anak
Rp. 25.000
untuk 1 orang anak
2
Taman Kelinci
Rp. 20.000
untuk 1 orang anak
3
Taman Miniatur Kereta Api
Rp. 20.000
untuk 1 orang anak
4
Lokomotif Mini
Rp. 25.000
untuk 1 orang anak
5
Becak dan Mobil Mini
Rp. 20.000
untuk 1 orang anak
6
Mancing Magnet
Rp. 20.000
untuk 1 orang anak
7
Kampung Kandang
Rp. 20.000
untuk 1 orang anak
8
Jasa Penyebrangan Danau
Rp. 1000
sekali nyebrang
9
Kereta Air
Rp. 20.000/orang
Waktu ± 20 Menit
10
Paddle Boat
Rp. 30.000/orang
Waktu ± 30 Menit
11
Sepeda Air (Water Cycle)
Rp. 50.000/sepeda 2 orang
Waktu ± 30 Menit
12
Sampan (Dinghy)
Rp. 70.000/Sampan 4 org.
Waktu ± 30 Menit
13
Kano (canoe)
Rp. 50.000/kano 2 orang
Waktu ± 30 Menit

*harga pada tabel di atas bisa berubah sewaktu-waktu

Mungkin sekian tentang pengalaman saya berkunjung ke Floating Market ini, tentang harga tiket masuk, fasilitas, dan wahana permainan yang tersedia di Floating Market, Lembang. Semoga bermanfaat

3 January 2017

Menkmati Pagi di Kebun Teh Jalan Cagak, Subang

Menkmati Pagi di Kebun Teh Jalan Cagak, Subang -  “Dingin Pap, ieu dimana?” Ini dimana? Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar dari mulut Khansa ketika saya menepikan sepeda motor di sekitaran kebun teh di Jalan Cagak, Subang. Awalnya saya kira nama jalan cagak itu adalah sebuah nama jalan saja, karena memang di sana ada sebuah rute jalan yang seolah memiliki cagak, terbagi dua. Tapi ternyata, Jalan Cagak ini juga adalah nama sebuah kecamatan ya. Jadi tepatnya kebun teh tempat saya dan istri menepikan sepeda motor ini berada di Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Subang.

Entahlah, waktu itu saya bersama istri hanya ingin mengusir rasa bosan saja di hari libur, dengan motor-motoran berkeliling kota Sumedang bersama Khansa. Hingga sampai di suatu titik, dengan hanya sedikit perencanaan di perjalanan, stang sepeda motor tiba-tiba terpelintir ke arah Paniisan Tanjungmedar, lalu ke kabupaten tetangga, Subang.

“Pap, main ke Subang yuk?” Kalimat itu, ajakan istri yang tak bisa saya tolak. Bukan, bukan ingin ke tempat wisata yang ada di sana, katanya ia hanya ingin menjajal perjalanan menuju kebun teh Subang dengan menggunakan sepeda motor, ingin rasakan udara segarnya, dan lain-lain. Karena ketika berwisata ke arah Lembang menggunakan mobil, tempat itu biasanya terlewat begitu saja. Selain itu, katanya ia juga ingin memperlihatkan banyak hal pada Khansa di sepanjang perjalanan.
Menikmati udara pagi di kebun teh Jalan Cagak, Subang
Dan sesampainya di lokasi, dada kami berdua langsung kembang kempis maksimal menghirup udara segar, apalagi hari masih terhitung pagi. Sebutlah ini wisata dadakan walau tak mengunjungi tempat wisata yang sebenarnya.

Dari berbagai sumber disebutkan, perkebunan teh ini termasuk wilayah yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII atau mudahnya disebut PTPN 8. Dikenal dengan nama Kebun Ciater atau Perkebunan Ciater, ia dikategorikan sebagai perkebunan teh dataran medium (1.050 meter DPL) yang merupakan warisan dari masa penjajahan Belanda, dimana keberadaannya sudah eksis sejak tahun 1934.

Dan karena pada awalnya tak memiliki niat tuk sengaja berwisata, akhirnya kami pun bingung akan melakukan apa setelah sampai di kebun teh ini, hhe. Jika pun perjalanan akan dilanjut ke Tangkuban Perahu, kami benar-benar tak ada persiapan untuk itu. Akhirnya, seperti bikers lain yang sejenak beristirahat dalam perjalanan, sembari berdiam di pinggir jalan kami menikmati cemilan yang sengaja dibeli sebelum berangkat. Sambil melihat penjual nanas yang berbaris rapi di bahu-bahu jalan, melihat hampar kebun teh, itu benar-benar memanjakan mata.

Dan akhirnya, memanfaatkan moment, apalagi yang kan dilakukan kalau bukan berfoto ria. Dan sekalian saja, memperkenalkan tanaman teh di sejauh mata memandang itu pada Khansa, ya, ini pertama kalinya ia melihat tanaman menyemak itu. Dan benar saja seperti dugaan, ia memang penasaran pada “barang baru” yang ada di hadapannya.

“De, ini namanya pohon Teh,” Ucap istri sambil menggendongnya.
“Poon teh,” Ulangnya.

Yap, dan satu nama tanaman, masuk ke dalam ingatannya secara kata dan visual. Itu memang selalu kami lakukan, dan pastinya juga orang tua lain lakukan di berbagai kesempatan.

Singkat itu sampai kami pulang kembali. Dan di rumah, Khansa ternyata tak lupa dan mengabsen apa yang tadi dilihatnya “Dede tadi liat cawah, kebau, poon teh, sama nanas,” Katanya dalam logat cadelnya. Semua adalah tentang yang dilihat selama perjalanan dan apa yang tersaji di kebun teh. Sepertinya itu jadi pengalaman yang menyenangkan untuknya, belajar kata benda baru dengan langsung melihat wujudnya :)

30 October 2016

Cara Mudah Membuat Pakan Discus

membuat pakan discus
Kulit pisang
Discus, merupakan salah satu ikan hias air tawar yang paling digemari karena keindahan warnanya. Mulai dari merah, biru, kuning, dan lainnya membuat tampilan ikan ini sangat meriah dan disukai hobiis. Banyaknya hobiis ikan hias yang menggandrungi ikan ini membuatnya sangat potensial untuk dijadikan ladang rupiah.

Harga Discus bervariasi sesuai kualitasnya, dari yang bersahabat di kantong hingga yang membuat dompet bolong. Selain cantik, ikan ini juga cocok dipadupadankan dengan aquascape. Tentunya tampilan aquascape akan lebih menarik dengan ikan ini sebagai penghuninya.

Namun demikian, tak jarang ia membuat repot sang pemilik karena tidak bisa diberi pakan pelet ikan yang praktis. Pakan yang diberikan haruslah pakan hidup berupa cacing sutra dan organisme kecil lainnya untuk memelihara tampilan warnanya. Dengan demikian banyak hobiis merasa pusing karena Disqus bisa menghabiskan banyak uang untuk pakan.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada alternatif untuk mengurangi biaya pakan Disqus, yaitu dengan cara membuat pakan alami untuk ikan Disqus. Caranya pun cukup mudah, bisa memanfatkan media yang ada, bahkan bisa juga tanpa mengeluarkan modal. Berikut, adalah cara mudah membuat pakan Discus:

Sobat bisa memanfaatkan cekungan di lahan sekitar rumah yang tidak terpakai, untuk dijadikan semacam empang. Atau kalau tidak ada, bisa menggunakan bak, media drum, sampai ember bekas. Caranya ;
  • Cekungan, bak, atau ember diisi air sampai tergenang,
  • Taburi genangan air tersebut dengan kulit pisang, sampah organik, dan kotoran ayam,
  • Setelah 4 - 5 hari, kutu-kutu air akan muncul dipermukaan genangan dan siap dipanen untuk pakan discus,
  • Ulangi langkah ini sebelum pakan kutu air dari proses pertama benar-benar habis. Dengan demikian ketersediaan pakan akan tetap terjaga.
Hey, mudah bukan? Hemat pula tentunya jika berkesinambungan dilakukan.